Pelabuhan Soekarno – Hatta, begitulah namanya. Salah satu pelabuhan yang berada di kawasan Indonesia Timur. Walaupun nama yang digunkan untuk menunjuk pada pelabuhan ini adalah dua tokoh proklamator Indonesia, namun warga lokal lebih mengenal Pelabuhan yang berdiri sejak Zaman Hindia-Belanda ini dengan sebutan Pelabuhan Makassar.
“Jadi bagaimana menurutmu Kota Makassar?” tanyaku pada sosok gadis yang sedak duduk di sampingku, sedang asik menunggu kapal yang akan bersandar di pelabuhan ini.
“yah menyenangkan, baru kali ini saya menginjakkan kaki di Kota Makassar, seru dan keren abis” sahut Dwi Ari Wulaningsih, sahabatku yang kukenal sejak beberapa tahun lalu.
Pertemuanku dengan Dwi Ari Wulaningsih berawal ketika sama-sama tergabung dalam Organisasi berskala Nasional. Saat itu sedang diadakan Kongres Nasional di Surabaya dalam rangka memilih pengurus baru, saat itu saya menjabat Juru Bicara di Pengurus Pusat sedangkan Dwi menjabat sebagai Koordinator Wilayah Sunda Kecil (sebutan untuk Wilayah Kerja yang meliputi NTB, NTT dan Bali).
“Syukurlah kamu senang, hitung-hitung ini balasan buat kamu ketika saya berkunjung ke Bali” sejenak ia tersenyum kepadaku akupun demikian membalas senyuman yang tersungging di wajah cantik nan manis itu.
“yah menyenangkan, baru kali ini saya menginjakkan kaki di Kota Makassar, seru dan keren abis” sahut Dwi Ari Wulaningsih, sahabatku yang kukenal sejak beberapa tahun lalu.
Pertemuanku dengan Dwi Ari Wulaningsih berawal ketika sama-sama tergabung dalam Organisasi berskala Nasional. Saat itu sedang diadakan Kongres Nasional di Surabaya dalam rangka memilih pengurus baru, saat itu saya menjabat Juru Bicara di Pengurus Pusat sedangkan Dwi menjabat sebagai Koordinator Wilayah Sunda Kecil (sebutan untuk Wilayah Kerja yang meliputi NTB, NTT dan Bali).
“Syukurlah kamu senang, hitung-hitung ini balasan buat kamu ketika saya berkunjung ke Bali” sejenak ia tersenyum kepadaku akupun demikian membalas senyuman yang tersungging di wajah cantik nan manis itu.
Sesaat kami memandangi matahari yang mulai terbenam di ufuk barat, di horizon sana perlahan-lahan terlihat KM Dobonsolo yang Dwi Ari akan tumpangi menuju Tanjung Perak Surabaya.
“satu lagi yang membuatku kagum akan Kota Makassar, yaitu panorama sunset yang indah terlebih lagi di Pantai Losari” sahut Dwi dan kemudian mengambil kamera DSLR di kopernya, sesaat ia menangkap pemandangan jingga keemasan di Horizon Barat, sebuah perpaduan gradasi warna dari Jingga, Jingga Keemasan, Merah Temaram hingga Biru Keunguan menghiasai setiap sudut layar Kamera Dwi, sebuah pemanadangan yang indah dan mendamaikan.
“satu lagi yang membuatku kagum akan Kota Makassar, yaitu panorama sunset yang indah terlebih lagi di Pantai Losari” sahut Dwi dan kemudian mengambil kamera DSLR di kopernya, sesaat ia menangkap pemandangan jingga keemasan di Horizon Barat, sebuah perpaduan gradasi warna dari Jingga, Jingga Keemasan, Merah Temaram hingga Biru Keunguan menghiasai setiap sudut layar Kamera Dwi, sebuah pemanadangan yang indah dan mendamaikan.
Beberapa kali kami melihat galeri Kamera Dwi, cukup banyak gambar yang diambil saat melancong ke Kota Makassar, mulai dari Uniknya Benteng Fort Rotterdam, Mistisnya Pekuburan Raja-Raja Tallo, Keramahan Warga Pesisisr Kota Makassar, bahkan ia juga masih menyempatkan mengambil secara diam-diam suasana Temaram Jalan Nusantara. Namun yang paling membuat kami takjub adalah pemandangan Senja di Losari dan dua Sejoli yang saling memadu kasih menatap Matahari Terbenam.
“Hilda menurutmu foto ini yang paling bagus?” tanyanya padaku, aku mengangguk pertanda setuju di antara berjejer gambar atau foto di galeri Kamera DSLR Dwi Arie foto Senja di Losari dan Sepasang Sejoli Memadu Kasih memang yang paling menarik bagiku.
“yah itu bagus, pertama aura romantisme muncul dalam foto ini, berlatar pemandangan indah dan damai Senja di Anjungan Pantai Losari memang menakjubkan sekaligus menghangatkan hati”
“yah memang Losari sangat indah dan Sunsetnya itu loh wuih… menggetarkan jiwa. Tapi Hilda sayang yah ada beberapa Bangunan yang menghalangi keindahan Pantai Losari…”
“Hmm maksudmu bangunan ini…” aku menunjuk sebuah Bangunan Beton yang menjulang di lepas Pantai Makassar, Dwi mengangguk mengiyakan pernyataanku.
“yah memang sih aura keromantisme Losari berkurang karena Proyek Reklamasi Pantai sehingga kita sudah tidak bisa leluasa mendapatkan sudut yang tepat dalam melihat Matahari Terbenam, terhalang Hutan Beton yang menjulang, selain itu karena proyek ini beberapa masyarakat pesisir dan nelayan terkena imbasnya” sahutku kepada Dwi, Dwi hanya tersenyum mendengar ucapanku, memang gadis ini selalu tersenyum dan itulah daya tariknya.
“Hmm kurang lebih mirip lah dengan Kasus Reklamasi di Tanjung Benoa Bali” Dwi sejenak menyandarkan badannya di kursi yang terbuat dari kayu jati.
“yah mungkin bisa dikatakan demikian…” sahutku dan kemudian kami kembali menatap Layar Kamera DSLR itu, nampak sebuah gambar/foto yang menyejukkan hati. Sebuah tangkapan kamera yang memperlihatkan Megah dan Khidmatnya dua bangunan peribadatan berdiri berdampingan. Masjid dan Gereja di Jalan Gagak Kota Makassar.
“kalau saya juga suka foto ini, menunjukkan Toleransi antar ummat beragama di Makassar” sahut Dwi, entah ada suatu arua kedamaian yang terbersit dalam hati ini.
“Hilda menurutmu foto ini yang paling bagus?” tanyanya padaku, aku mengangguk pertanda setuju di antara berjejer gambar atau foto di galeri Kamera DSLR Dwi Arie foto Senja di Losari dan Sepasang Sejoli Memadu Kasih memang yang paling menarik bagiku.
“yah itu bagus, pertama aura romantisme muncul dalam foto ini, berlatar pemandangan indah dan damai Senja di Anjungan Pantai Losari memang menakjubkan sekaligus menghangatkan hati”
“yah memang Losari sangat indah dan Sunsetnya itu loh wuih… menggetarkan jiwa. Tapi Hilda sayang yah ada beberapa Bangunan yang menghalangi keindahan Pantai Losari…”
“Hmm maksudmu bangunan ini…” aku menunjuk sebuah Bangunan Beton yang menjulang di lepas Pantai Makassar, Dwi mengangguk mengiyakan pernyataanku.
“yah memang sih aura keromantisme Losari berkurang karena Proyek Reklamasi Pantai sehingga kita sudah tidak bisa leluasa mendapatkan sudut yang tepat dalam melihat Matahari Terbenam, terhalang Hutan Beton yang menjulang, selain itu karena proyek ini beberapa masyarakat pesisir dan nelayan terkena imbasnya” sahutku kepada Dwi, Dwi hanya tersenyum mendengar ucapanku, memang gadis ini selalu tersenyum dan itulah daya tariknya.
“Hmm kurang lebih mirip lah dengan Kasus Reklamasi di Tanjung Benoa Bali” Dwi sejenak menyandarkan badannya di kursi yang terbuat dari kayu jati.
“yah mungkin bisa dikatakan demikian…” sahutku dan kemudian kami kembali menatap Layar Kamera DSLR itu, nampak sebuah gambar/foto yang menyejukkan hati. Sebuah tangkapan kamera yang memperlihatkan Megah dan Khidmatnya dua bangunan peribadatan berdiri berdampingan. Masjid dan Gereja di Jalan Gagak Kota Makassar.
“kalau saya juga suka foto ini, menunjukkan Toleransi antar ummat beragama di Makassar” sahut Dwi, entah ada suatu arua kedamaian yang terbersit dalam hati ini.
Sejenak kami kembali memerhatikan ruang tunggu Pelabuhan, yah sudah banyak berubah, dahulu ruang tunggu Pelabuhan Makassar semrawut, kotor, dan pengap. Tapi kini berubah 180 derajat, bersih, terturm dan sejuk. Daya tarik dari ruang tunggu pelabuhan ini adalah lukisan-lukisan tanah liat karya pelukis handal Kota Makassar Zaenal Bate, berjejer rapi nan artistik di setiap sudut ruang tunggu pelabuhan.
“oh Iya Hilda kapan-kapan kamu main-main lagi ke Bali, merasakan suasana indahnya Pulau Dewata…?!”
“yah semoga ada kesempatan dapat melancong ke Bali Dwipa Jaya”
“oh Iya Hilda kapan-kapan kamu main-main lagi ke Bali, merasakan suasana indahnya Pulau Dewata…?!”
“yah semoga ada kesempatan dapat melancong ke Bali Dwipa Jaya”
Tak terasa Kapal Dobonsolo telah merapat di Pelabuhan Makassar, kami berdua berdiri dan beranjak dari ruang tunggu pelabuhan, berjalan menuju dermaga bersama beberapa penumpang kapal lainnya, beberapa petugas pelabuhan mengecek manifest dan mengarahakan satu persatu penumpang menaiki Kapal Pelni yang cukup besar itu.
“jadi Dwi kamu ke Surabaya dulu lalu ke Bali?” tanyaku kepada Dwi yang berdiri di sampingku.
“iya setelah berlabuh di Pelabuhan Tanjung Perak, kemudian seharian di Surabaya dulu menginap, lalu melanjutkan penerbangan menuju Bali” sahut Dwi singkat kepadaku.
“iya setelah berlabuh di Pelabuhan Tanjung Perak, kemudian seharian di Surabaya dulu menginap, lalu melanjutkan penerbangan menuju Bali” sahut Dwi singkat kepadaku.
Dan kami berdua pun saling berjabat tangan dan saling mendoakan masing-masing. Bersama dengan matahari terbenam di ufuk barat, dan sayup-sayup Adzan Maghrib menggema di langit Kota Makassar, saya melepas kepergian salah satu sahabatku, selamat jalan Dwi Arie semoga persahabatan ini tak akan lekang oleh waktu dan tak terpisahkan oleh jarak.
Cerpen Karangan: Ilyas Ibrahim Husain
Tidak ada komentar:
Posting Komentar