Langit tertutup gerombolan awan abu-abu, pertanda hujan deras akan tiba. Tet.. tet.. bel pulang berbunyi. Namun aku dan 3 orang temanku masih ada tugas sekolah yang harus diselesaikan hari ini.
“Astaga aku lupa aku ada janji mengantarkan Agung ke toko buku hari ini,” ucapku kaget. Aku benar-benar lupa jika aku punya janji dengan teman dekatku, Agung.
“Loh kamu kenapa tidak bilang dari tadi? tugas kita gimana?” jawab Ayu dengan nada sedikit cemas.
“Aku lupa, maaf,” ucapku.
“Baiklah kamu pergi saja dengan Agung, kalau sudah cepat ke sini,” lanjut Ninda.
Ponselku berbunyi tiada henti, rupanya Agung sudah menungguku. Ku buka sms yang isinya.
‘Risti, aku sudah di depan sekolah, kamu di mana?’ tanpa ku balas pesan itu aku langsung lari ke luar sekolah. Ternyata Agung sudah menungguku.
“Loh kamu kenapa tidak bilang dari tadi? tugas kita gimana?” jawab Ayu dengan nada sedikit cemas.
“Aku lupa, maaf,” ucapku.
“Baiklah kamu pergi saja dengan Agung, kalau sudah cepat ke sini,” lanjut Ninda.
Ponselku berbunyi tiada henti, rupanya Agung sudah menungguku. Ku buka sms yang isinya.
‘Risti, aku sudah di depan sekolah, kamu di mana?’ tanpa ku balas pesan itu aku langsung lari ke luar sekolah. Ternyata Agung sudah menungguku.
“Maaf, aku terlambat. Aku tadi harus mengerjakan tugas sekolahku,” ucapku dengan napas terengah-engah.
“Gak masalah, ayo langsung naik,” balas Agung sambil memakai helm berwarna merah miliknya. Kami pun berangkat ke toko buku. Sepanjang perjalanan, ku pandangi jalan raya dan trotoar yang sepi, tidak seperti biasanya. Sambil ku lihat langit yang semakin lama semakin menggelap. Aku khawatir akan turun hujan karena aku tahu, Agung tidak pernah membawa jas hujan saat pergi ke mana-mana.
“Gak masalah, ayo langsung naik,” balas Agung sambil memakai helm berwarna merah miliknya. Kami pun berangkat ke toko buku. Sepanjang perjalanan, ku pandangi jalan raya dan trotoar yang sepi, tidak seperti biasanya. Sambil ku lihat langit yang semakin lama semakin menggelap. Aku khawatir akan turun hujan karena aku tahu, Agung tidak pernah membawa jas hujan saat pergi ke mana-mana.
“Ayo turun kita sudah sampai,” pinta Agung. Aku pun kaget karena kita sampai di Taman kota bukan di toko buku.
“Loh kok ke sini? katanya kita ke toko buku,” jawabku dengan heran.
“Ke toko bukunya nanti dulu, kita duduk-duduk aja dulu,” jawab Agung.
“Tugasku di sekolah nungguin aku, masa iya aku malah nyantai di sini.” ucapku dengan kesal.
“Loh kok ke sini? katanya kita ke toko buku,” jawabku dengan heran.
“Ke toko bukunya nanti dulu, kita duduk-duduk aja dulu,” jawab Agung.
“Tugasku di sekolah nungguin aku, masa iya aku malah nyantai di sini.” ucapku dengan kesal.
Agung langsung memegang tanganku, aku pun kaget dan terdiam. Ternyata dia menembakku pada waktu itu. Ah bagaimana mungkin. Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Aku sendiri tidak mengerti dengan perasaanku terhadap Agung. Belum sempat aku menjawab perasaan Agung, titik-titik air mulai turun, semakin lama semakin cepat dan semakin banyak. Ya tepatnya hujan yang semakin lama semakin deras. Agung pun mengajakku berteduh. Selama berteduh dia tidak membahas masalah yang tadi, mungkin dia mengerti apa yang aku rasakan tadi. Kami pun berbincang-bincang sambil bergurau. Tidak terasa kami terjebak hujan hampir satu jam.
“Sudah agak reda, antarkan aku kembali ke sekolah Gung, teman-temanku menunggu,” pintaku.
“Baiklah Risti, ayo kita pulang.” jawabnya sambil menggandeng tanganku.
Selama perjalanan pulang kami saling membisu. Aku sangat kedinginan karena hujan masih belum reda. Sesampai di sekolah ku lihat ternyata teman-temanku menunggu di depan sekolah. Setelah Agung pamit pulang, aku menghampiri mereka.
“Baiklah Risti, ayo kita pulang.” jawabnya sambil menggandeng tanganku.
Selama perjalanan pulang kami saling membisu. Aku sangat kedinginan karena hujan masih belum reda. Sesampai di sekolah ku lihat ternyata teman-temanku menunggu di depan sekolah. Setelah Agung pamit pulang, aku menghampiri mereka.
“Kalian menungguku di sini?” ucapku.
“Tentu saja, kami khawatir denganmu,” jawab Ria.
“Benarkah, kalian baik sekali,” ucapku.
“Bagaimana tidak, hujan sangat deras. Dan kamu pergi dengan Agung,” jawab Ninda.
“Kami tidak ingin kamu kehujanan lalu sakit.” lanjut Ayu.
“Tentu saja, kami khawatir denganmu,” jawab Ria.
“Benarkah, kalian baik sekali,” ucapku.
“Bagaimana tidak, hujan sangat deras. Dan kamu pergi dengan Agung,” jawab Ninda.
“Kami tidak ingin kamu kehujanan lalu sakit.” lanjut Ayu.
Tanpa membalas ucapan mereka, aku langsung memeluk mereka. Kami pun langsung pulang karena takut hujan deras turun lagi. Aku bercerita tentang Agung yang menembakku tadi. Mereka menyuruhku untuk menerima Agung karena mereka mengerti perasaanku. Ternyata mereka sangat menyayangiku, aku bahagia punya sahabat seperti mereka. Dan Agung kini menjadi kekasihku.
Cerpen Karangan: Deasy Dwi Cristianti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar